Rosella 3
Present By: rkHARTONO @ Rosella bikin HIJAU & SEHAT..

MEMPERINGATI HARI BUMI 22 APRIL


Untuk melihat Video, KLIK tanda > Tunggu beberapa saat untuk proses Loading....JIKA VIDEO TIDAK MUNCUL mungkin KOMPUTER Anda BELUM terINSTAL PROGRAM Flash Player, SW Player atau FLV >>>KLIK DISINI saja JIKA TIDAK MUNCUL
eMail: rkhartono@yahoo.com RK_AJA
Line: 081392 -

GLOBAL WARMING effect............. (image: www.google.com, key word; Global Warming)

Teknologi EFI Kurangi Dampak Buruk Gas CO

Teknologi EFI Kurangi Dampak Buruk Gas CO

EMISI gas buang kendaraan seperti Carbonmonoksida (CO), Nitrogenoksida (NOx), Hidrocarbon (HC) dan Karbondioksida (CO2), dapat menyebabkan berbagai macam penyakit termasuk penurunan daya tahan tubuh. Bahkan CO dapat menyebabkan kematian. Seseorang yang teracuni gas CO akan mengalami berbagai gejala. Sakit kepala, gangguan mental (mental dullness), pusing, lemah, mual, muntah, kehilangan kontrol otot. Gejala-gejala itu akan diikuti penurunan denyut nadi dan frekuensi pernapasan, pingsan dan bahkan meninggal. CO merupakan gas yang tidak memiliki aroma yang khusus. Senyawa CO dapat bereaksi dengan hemoglobin darah membentuk karboksi hemoglobin (Hb-CO) yang tidak bisa mengangkut oksigen dalam sirkulasi darah. Celakanya, kemampuan CO dalam mengikat hb ternyata 210 kali lebih kuat dibanding oksigen, sehingga oksigen kalah bersaing. Hasil penelitian di Malaysia menunjukkan, polusi yang terjadi dalam kabin mobil digolongkan pencemaran udara dalam ruangan. Polusi ruangan ini kini menjadi pusat perhatian, karena 80 persen aktivitas manusia modern dilakukan di dalam ruangan. Kasus pingsan atau bahkan meninggal akan terjadi bila kadar Hb-CO dalam darah mencapai 60% dari total hb darah atau lebih. Mesin Bawah Jok Seperti diketahui, udara memiliki karakter berembus dari temperatur udara yang panas ke dingin. Sehingga apabila pintu dan bagasi mobil sudah ditutup, bukan jaminan CO tidak bisa masuk ke dalam kabin mobil. Apalagi mobil yang mesinnya berada di bawah jok, kemungkinan masuknya CO akan lebih besar. Ukuran knalpot juga penting diperhatikan. Semakin panjang knalpot, atau bahkan melebihi panjang mobil, akan lebih baik dibanding berada di bawah mobil. Hasil penelitian juga menunjukkan, seseorang yang berada dalam kabin mobil menghirup lebih banyak polutan daripada orang yang berada di luar mobil. Pendapat umum yang menyatakan orang di luar mobil seperti pejalan kaki atau pengendara sepeda motor terkena lebih banyak gas, tidaklah tepat. Mereka justru lebih sedikit menghirup polutan karena efek pengenceran udara bersih. Polutan di udara bebas cepat terurai oleh angin, sehingga tidak menggumpal di suatu tempat dan konsentrasinya tidak pekat. Berbeda dengan penumpang mobil tertutup. Polutan gas dalam mobil terkumpul sehingga kadarnya relatif lebih tinggi. Di dalam mobil, sumber utama CO adalah asap knalpot dan rokok. Penelitian yang dilakukan di Malaysia menyatakan, gas CO mau tidak mau akan menerobos masuk ke dalam kabin mobil dari luar. Di kota besar, 9-14 part per million (ppm atau bagian per juta) CO terdeteksi dalam kabin mobil yang sedang melaju. Sebagai pembanding, baku mutu udara ambien RI adalah 20 ppm CO/8 jam. Artinya asap knalpot sudah menyumbang sekitar setengah batas kadar CO yang diperbolehkan. Merokok dalam Mobil Keadaan lebih parah dapat terjadi apabila pengemudi atau penumpang merokok dalam mobil. Sebab pada asap rokok selain terkandung ter, nikotin dan CO2, juga berisi CO. Hasil penelitian menunjukkan, kadar Hb-CO dalam darah perokok mencapai 4-5% total Hb, dan perokok berat bisa mencapai 10 persen. Bandingkan dengan kadar Hb-CO dalam darah penduduk kota besar hanya 1 hingga 2 persen. Tidak hanya itu. Pengemudi yang merokok akan kehilangan 50% konsentrasi berkendara, pikiran atau angannya mengawang entah ke mana. Padahal demi keselamatan, tiap pengemudi dituntut berkonsentrasi penuh ke jalan raya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalisir dampak buruk gas beracun tersebut. Teknologi Electronic Fuel Injection (EFI) yang menggantikan karburator dan converter catalyst yang dipasangkan pada knalpot kendaraan, dapat mengurangi dampak buruk gas CO. Mobil dengan karburator memiliki emisi CO terendah sekitar 2,5% per volume. Sedang mobil berteknologi EFI hanya 0,25% per volume. Untuk mengurangi terjadinya risiko tersebut, tes kompresi penting dilakukan. Jika tekanan kompresi mobil bensin di bawah 9 kg/cm2 dan pada mesin diesel di bawah 20 kg/cm2, sudah saatnya turun mesin. Saringan udara juga harus sering dibersihkan, paling tidak setiap 20.000 km. (No)-k

KR Edisi 16/04/2008, Img google.com; Keyword "technology"


[ Baca selengkapnya... ]

Peran penting.. Kaum Ibu... Mengikapi Global Warming

Peran penting.. Kaum Ibu... Mengikapi Global Warming

Kenaikan temperatur permukaan bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca, cepat atau lambat bisa menyebabkan perubahan pola iklim global. Perubahan pola iklim global atau yang lebih dikenal dengan global warming, selain dipengaruhi oleh aktivitas industri dan pembakaran sampah, juga disebabkan pemborosan penggunaan BBM dan kepadatan lalu lintas. Jika persoalan itu tidak ditangani dengan serius selain terjadi perubahan pola iklim di dunia, arah dan kecepatan angin serta curah hujan bisa berubah. Guna menghindari hal itu penghematan energi, kecermatan pemilihan produk rumah tangga dan pengurangan limbah domestik mutlak diperlukan. Demikian dikatakan oleh Dr Eko Sugiharto DEA dari Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM dalam acara sarasehan dengan tema ‘Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Kepedulian dalam Menjaga Lingkungan’ yang diselenggarakan Kantor Pemberdayaan Perempuan Propinsi DIY, di Balai Kunthi, Rabu (16/4). Eko mengatakan, para ibu memiliki peran besar untuk meminimalkan pemanasan global, di antaranya dengan mengurangi pemakaian tas kresek. ”Biasakan kalau ke mal atau belanja, bawa tas kresek dari rumah. Banyak anggota masyarakat yang tidak menyadari bahwa tas plastik yang mereka gunakan saat berbelanja bisa memicu terjadinya pemanasan global. Karena sampah plastik itu saat dibakar menghasilkan gas berbahaya seperti CO dan CO2,” ujarnya. Selain itu, ibu-ibu juga lebih cermat memilih produk rumah tangga maupun kosmetik yang ramah lingkungan. Selain Dr Eko Sugiharto, sarasehan juga menghadirkan pembicara Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Yogyakarta Tiar Prasetya SSi dan Dra Yoni Astuti MKes dari Pusat Studi Wanita UMY. Dikatakan Eko, global warming mengalami peningkatan cukup drastis sejak tahun 1980-an. Walaupun perubahan iklim tersebut tergolong lambat mungkin hanya 0,5 derajat setiap 2 tahun tapi bisa menimbulkan dampak yang cukup besar. Di antaranya mencairnya es di daerah kutub, kenaikan suhu muka laut, penurunan kesehatan masyarakat serta hasil budidaya tanaman pangan yang turun secara gradual. Tentunya persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat. ”Selama ini banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa AC, almari es dan kosmetik yang mereka gunakan bisa mempercepat pemanasan global. Sebelum kondisinya menjadi semakin serius, saya mengimbau pada ibu rumah tangga untuk lebih cermat dalam memilih peralatan yang digunakan,” ungkapnya. (R-5/Fia)-z Hal senada juga dikemukakan oleh Tiar Prasetya SSi, menurutnya banyaknya bencana alam yang terjadi di berbagai daerah seperti banjir dan kekeringan secara tidak langsung disebabkan oleh perubahan iklim. Meningkatnya frekeunsi dan intensitas hujan, badai, angin puting beliung serta kebakaran hutan adalah dampak dari perubahan iklim yang merugikan. Untuk mengatasi persoalan itu dibutuhkan usaha bersama misalnya efisiensi energi (listrik dan BBM) serta mengintensifkan gerakan ramah lingkungan. Hal itu penting karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan belum bisa dikatakan optimal. (R-5/Fia)-x

KR Yogya Edisi Rabu; 16/04/2008' img: google.com key word "ibu"


[ Baca selengkapnya... ]


MELIHAT DETIK-DETIK TERAKHIR BUMI..... DAMPAK GLOBAL WARMING

(Video 1-3 from www.photobucket.com)

tinggalkan pesan


Tinggalkan Pesan @ SisiLainDunia